Darah dan Komponen Darah pada Manusia -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Darah dan Komponen Darah pada Manusia

| 20.10.25 WIB | 0 Views

Darah manusia berwarna merah disebabkan darah mengandung hemoglobin. Hemoglobin mampu mengikat O2 dan CO2, bila kadar O2 dalam darah tinggi, maka darah berwarna merah muda, bila kadar CO2 dalam darah tinggi darah berwarna merah tua. Volume darah manusia ± 4 – 5 liter.

Fungsi darah manusia yaitu:
1. Mengangkut zat-zat yang dibutuhkan tubuh (sari-sari makanan, air, dan oksigen) ke seluruh jaringan tubuh
2. Mengangkut zat-zat sisa metabolisme menuju alat-alat ekskresi
3. Mempertahankan keseimbangan suhu tubuh, dengan cara mengangkut energi panas dari tempat aktif ke tempat yang tidak aktif.
4. Mengangkut hormon dari kelenjar endokrin ke bagian tubuh tertentu.
5. Sel darah putih sebagai alat pertahanan tubuh dari infeksi kuman penyakit.
6. Mengatur keseimbangan asam dan basa darah
7. Mengedarkan enzim-enzim ke seluruh tubuh

Darah manusia terdiri dua komponen utama:

1. Zat cair (plasma darah)
Di dalam plasma darah terlarut berbagaimacam zat, zat-zat tersebut ada yang masih berguna dan adapula yang tidak berguna. Zat-zat tersebut antara lain:
a. Zat makanan dan mineral, antara lain glukosa, gliserin, asam amino, asam lemak kolesterol, dan garam mineral.
b. Zat hasil produksi dari sel-sel, antara lain enzim, hormon, dan antibodi.
c. Protein. Protein dalam plasma darah terdiri atas:
• antiheofilik berguna mencegah anemia;
• Tromboplastin berguna dalam proses pembekuan darah;
• protrombin mempunyai peranan penting dalam pembekuan darah;
• fibrinogen mempunyai peranan penting dalam pembekuan darah;
• albumin mempunyai peranan untuk memelihara tekanan osmotic darah;
• gammaglobulin berguna dalam senyawa antibodi.
• Karbon dioksida, oksigen, dan nitrogen.

2. Zat padat (Sel-Sel Darah)

a. Sel Darah Merah (eritrosit)
Sel darah merah
Ciri dan fungsi sel darah merah:
1) Jumlahnya paling banyak. Pada wanita, jumlahnya ± 4,5 juta/mm3 darah, sedangkan pada laki-laki ± 5 juta/mm3 darah.
2) Bentuknya bikonkaf dan tidak memilki inti sel
3) Sel-sel darah merah mempunyai usia ± 120 hari.
4) Eritrosit dihasilkan pertama kali di dalam kantong kuning telah saat embrio pada minggu-minggu pertama. Setelah beberapa bulan kemudian, eritrosit terbentuk di dalam hati, limfa, dan kelenjar sumsum tulang.
5) Berperan dalam transportasi

Apakah yang akan terjadi jika anda kekurangan sel darah merah?
Berikut adalah jenis-jenis anemia yang merupakan penyakit keturunan:

1. Anemia Sel Sabit
Orang dengan anemia sel sabit biasanya memiliki gen yang dapat menyebabkan hemoglobin protein darah terbentuk secara tidak normal. Kondisi ini membuat sel darah merah yang diproduksi berbentuk sabit (tidak normal) sehingga tidak bisa membawa oksigen secara sempurna dan mudah pecah. Pada akibatnya situasi ini menyebabkan penyakit stroke, serangan jantung, pembengkakan di tangan dan kaki serta menurunnya kemampuan tubuh untuk melawan infeksi. Umumnya kondisi anemia sel sabit ini sering terjadi kepada orang keturunan Afrika-Amerika serta Hispanik, India, dan Mediterania.

2. Thalasemia
Thalasemia terjadi bila tubuh tidak dapat menghasilkan hemoglobin yang cukup dan berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh. Kondisi ini terjadi karena faktor genetik. Gejala yang biasanya dialami pengidap thalasemia adalah kelelahan, pembesaran limpa yang meluas, pertumbuhan tulang yang tidak semestinya, dan penyakit kuning.

3. Anemia Pernisiosa Kongenital
Jenis anemia ini termasuk yang langka dan terjadi ketika seseorang dilahirkan dengan ketidakmampuan untuk menghasilkan faktor intrinsik protein di lambung yang membantu tubuh menyerap vitamin B12. Tanpa vitamin B12, tubuh tidak dapat membuat sel darah merah yang sehat sehingga menyebabkan pengidapnya menjadi anemia.

Kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan komplikasi lain, seperti kerusakan saraf, kehilangan ingatan, dan pembesaran hati. Seperti bentuk lain dari anemia pernisiosa, kondisi ini biasanya diobati dengan suplemen vitamin B12 yang kemungkinan besar dikonsumsi seumur hidup.

4. Anemia Fanconi
Jenis anemia ini berasal dari gangguan darah yang diturunkan yang mencegah sumsum tulang menghasilkan cukup pasokan sel darah baru bagi tubuh. Selain memiliki tanda-tanda klasik anemia, seperti kelelahan dan pusing, beberapa pengidap anemia fanconi juga berisiko lebih besar untuk mengalami infeksi karena tubuh mereka tidak menghasilkan sel darah putih yang cukup untuk melawan kuman.

Beberapa pasien juga berisiko lebih besar untuk leukemia myeloid akut, yakni sejenis kanker darah karena sumsum tulang belakang mereka membuat sejumlah besar sel darah putih yang belum matang, sehingga menghambat produksi sel darah normal.

5. Sferositosis Herediter
Penyakit ini biasanya diturunkan dari orangtua ke anaknya dan ditandai oleh sel darah merah yang abnormal yang disebut sferosit yang tipis dan rapuh. Sel-sel ini tidak dapat berubah bentuk untuk melewati organ-organ tertentu seperti yang dilakukan sel-sel darah merah normal. Akibatnya, sel-sel itu tinggal di limpa lebih lama di mana akhirnya dihancurkan. Penghancuran sel darah merah menyebabkan anemia. Kebanyakan orang dengan sferositosis keturunan hanya mengalami anemia ringan, tetapi tekanan pada tubuh akibat infeksi dapat menyebabkan sakit kuning dan bahkan penghentian sementara produksi sumsum tulang sel darah.

b. Sel Darah putih (leukosit)
Ciri dan Fungsi sel darah putih :
1) Sel darah putih mempunyai nukleus dengan bentuk yang bervariasi.
2) Ukurannya berkisar antara 10 nm–25nm
3) Fungsi sel darah putih ini adalah untuk melindungi badan dari infeksi penyakit serta pembentukan antibody di dalam tubuh
4) Jumlahnya ± 8000 – 9000 butir per mm³
5) Umurnya ± 20 hari
6) Dapat menembus dinding pembuluh darah (diapedesis)
7) Bentuknya amoeboit

Jenis leukosit adalah:
a. Granulosit, leukosit yang sitoplasmanya mempunyai butir-butir dan berinti lebih dari satu. Neutrofil, Basofil dan Eosinofil
b. Agranulosit, leukosit yang sitoplasmanya tidak mempunyai butir-butir dan berinti satu. Monosit dan limfosit

Untuk membedakan strukturnya dari sel darah merah, cobalah Anda perhatikan Gambar berikut!
Apakah yang akan terjadi jika anda kekurangan sel darah putih?
Jumlah sel darah putih yang rendah atau leukopenia biasanya disebabkan oleh:

1. Infeksi, misalnya pada sepsis, HIV/AIDS dan tuberkulosis.
2. Kelainan bawaan saat lahir yang membuat fungsi sumsum tulang dalam memproduksi sel darah berkurang, seperti pada penyakit myelokathexis dan Sindrom Kostmann.
3. Gangguan autoimun yang menghancurkan sel darah putih atau sel sumsum tulang, seperti penyakit lupus dan radang sendi (rheumatoid arthritis).
4. Infeksi parah yang membuat sel darah putih bekerja ekstra.
5. Pengobatan tertentu, seperti antibiotik yang merusak sel darah putih, kemoterapi, penicillin, atau kortikosteroid.
6. Leukopenia atau sel darah putih rendah bisa disebabkan oleh kekurangan vitamin B12, folat, zinc, dan tembaga.
7. Ada gangguan atau penyakit yang berhubungan dengan sel darah atau sumsum tulang, contohnya anemia aplastik, hipersplenisme atau limpa yang terlalu aktif, myelodysplastic syndrome (MDS), myeloproliferative syndrome, dan myelofibrosis.
8. Kanker darah dan kanker sumsum tulang. Yaitu kanker yang tumbuh di sumsum tulang dan membuat sel darah tidak diproduksi dan berkembang dengan normal.
9. Penyebaran atau metastasis kanker. Sel kanker bisa menyebar ke organ atau jaringan tubuh lain, termasuk ke sumsum tulang dan memengaruhi fungsinya. Akibatnya, sumsum tulang kesulitan untuk menghasilkan sel darah yang dibutuhkan tubuh.
10. Terapi radiasi. Terapi radiasi yang dilakukan pada tulang besar yang mengandung sumsum tulang paling banyak, seperti panggul, kaki, dan torso, membuat leukopenia rentan terjadi.

Apakah yang akan terjadi jika anda kelebihan sel darah putih?
Leukemia adalah kanker sel darah putih di mana terjadi kelainan yang menyebabkan jumlah sel darah putih meningkat drastis dan tidak dapat berfungsi dengan normal. Tubuh penderita leukemia memproduksi sel darah putih pada sumsum tulang lebih dari yang dibutuhkan, sehingga bukannya memerangi infeksi, sel darah putih berlebih ini justru mengganggu kerja organ tubuh.

Gejala yang mungkin terjadi pada penderita leukemia yakni: anemia atau tampak pucat, sering merasa letih dan berkunang-kunang, perdarahan spontan (sering mimisan, perdarahan pada gusi tanpa sebab yang jelas), nyeri pada tulang dan sendi, penurunan berat badan tanpa diketahui penyebabnya, pembengkakan kelenjar getah bening, sering demam, dan mudah memar.

Kondisi ini lebih sering dialami pria dan lebih umum terjadi pada ras Kaukasia. Pada sel darah putih yang terserang leukemia, sel-sel tersebut tidak dapat berfungsi dengan baik. Secara umum, penyakit leukemia dibedakan menjadi tipe akut dan kronis. Leukemia limfositik akut biasanya lebih sering terjadi pada anak-anak, namun bisa juga terjadi pada orang dewasa. Pada orang dewasa, leukemia jenis ini lebih sulit ditangani Leukemia limfositik kronis umumnya diderita oleh orang yang berusia di atas 60 tahun, leukemia jenis ini hampir tidak pernah ditemukan pada anak-anak.

Penyebab leukemia tidak diketahui secara pasti sehingga , tidak ada hal yang dapat dilakukan untuk mencegahnya. Tetapi diketahui, mutasi DNA pada sel-sel di dalam sumsum tulang diketahui dapat menjadi penyebab terjadinya leukemia. Namun beberapa faktor seperti kebiasaan merokok, riwayat keluarga dengan penyakit leukemia, dan paparan bahan kimia tertentu dapat memicu perkembangan kondisi ini. Terapi radiasi yang digunakan untuk menangani kanker bahkan dapat memicu leukemia.

c. Keping Darah (trombosit)
Ciri dan fungsi keeping darah:
• Bentuknya tidak teratur, tidak berwarna dan tidak berinti
• Umurnya 2 sampai 3 hari
• Jumlahnya ±200.000 – 300.000 per mm³
• Dibentuk dalam sel megakarosit sumsum tulang merah
• Fungsi untuk pembekuan darah
Skema pembekuan darah secara ringkas.
Penjelasan Proses Pembekuan Darah

Proses pembentukan darah atau yang sering disebut juga dengan sebutan koagolasi merupakan proses yang sangat kompleks yang mana darah yang membentuk gumpalan guna untuk mumulihkan dan menutup luka serta menghentikan pendarahan.

Unsur Unsur Proses Pembekuan Darah

Proses ini tidak akan terjadi jika tanpa ada aktor yang sangat berperan dalam proses ini.

Koagulasi ini harus melibatkan trombosit dan komponen yang lainnya.

Trombosit
Trombosit atau keping darah adalah elemen berbentuk cakram di dalam darah. Trombosit berkumpul secara berdempet-dempetan selama proses pembekuan darah normal.

Trombosit digolongkan sebagai sel darah, tetapi sebenarnya trombosit adalah bagian dari sel-sel sumsum tulang yang besar yang disebut dengan megakaryocytes

Faktor Koagulasi
Faktor koagulasi adalah protein, sebagian besar diproduksi oleh organ hati. Terdapat banyak faktor koagulasi, 13 diantaranya diberi nama dengan huruf romawi. Saat ini banyak protein-protein baru yang ditemukan namun tidak diberikan penamaan dengan angka romawi.


Baca Juga

Tidak ada komentar:

×
Berita Terbaru Update