Pernikahanku terhalang weton -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pernikahanku terhalang weton

| 29.11.25 WIB | 0 Views
Sumber gambar: https://www.pinterest.com
Budaya Jawa mengenal primbon untuk meramalkan kehidupan manusia melalui perhitungan weton. Weton kelahiran dipercaya dapat mengetahui watak atau sifat seseorang ketika lahir hingga dewasa. Tidak hanya itu, bagi penganut dan yang mempercayainya, weton pun dapat digunakan untuk meramal masa depan, masa tanam, memulai usaha, boyongan rumah, mengawali pembangunan rumah, mengawali sebuah pekerjaan, masa panen, sampai dengan perhitungan perjodohan. Weton sendiri sering digunakan sebagai pertimbangan untuk memutuskan sesuatu, termasuk kecocokan jodoh. Menurut kepercayaan jaman dahulu, weton jodoh digunakan untuk menghitung kecocokan dan keserasian antar pasangan berdasarkan tanggal lahir keduanya sebelum menikah.

Apa itu weton?
Weton adalah hari kelahiran seseorang yang perhitungannya didasarkan pada tujuh hari dalam seminggu (Senin, Selasa, rabu, Kmais, Jum’at, Sabtu, Minggu) dan lima hari pasaran ( Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing).

Apa itu Neptu?
Neptu adalah nilai numerik atau angka tertentu yang mewakili hari-hari dalam seminggu (Senin, Selasa, dst.) dan hari-hari pasaran Jawa (Pahing, Pon, Wage, Kliwon, Legi).
Bagaimana cara menggunakan neptu?
Contoh: Jika pria lahir Kamis Wage (8+4=12)
dan wanita lahir Rabu Pon (7+7=14), maka totalnya adalah 12+14=26.

Analisis hasil:
Hasil penjumlahan tersebut kemudian dianalisis dengan metode tertentu. Misalnya dengan pembagi bilangan 7.lalu lihat sisa pembagiannya. Pada contoh diatas Sisa pembagian 26/7= 3, sisa hasil pembagi = 5
Sisa ini dihubungkan dengan makna tertentu. Berdasarkan sisa pembagian dengan 7: Setiap sisa pembagian memiliki makna yang berbeda, seperti:
Sisa 1: Wasesa Segara (hidup berlimpah)
Sisa 2: Tunggak Semi (rezeki mengalir)
Sisa 3: Satria Wibawa (hidupnya mulia)
Sisa 4: Sumur Sinaba (sumber ilmu dan rezeki)
Sisa 5: Satria Wirang (murah rezeki tapi banyak malu)
Sisa 6: Bumi Kepetak (tahan banting dan kerja keras)
Sisa 0 atau 7: Lebu Ketiup Angin (bermasalah dan sering pindah)

Interprestasi hasil perhitungan neptu bisa berbeda-beda. Metoda pembagi dengan angka 7, hanyalah salah satu metoda saja, ada metoda lain yang biasa digunakan oleh masyarakat jawa, diantaranya adalah menafsirkan hasil penjumlahan neptu calon suami dan calon istri, selanjutnya diklasifikasikan sebagi berikut:
• Pegat (jika hasilnya 1, 9, 10, 18, 19, 27, 28, 36)
Jika masuk dalam kategori ini, maka hubungan Anda dan pasangan berkemungkinan untuk dihiasi oleh berbagai masalah–seperti masalah ekonomi, kekuasaan, hingga perselingkuhan.

• Ratu (jika hasilnya 2, 11, 20, 29)
Kategori ratu mengindikasikan bahwa Anda dan pasangan adalah sepasang jodoh sejati. Pasangan ini memiliki hubungan yang sangat harmonis dan membuat iri banyak orang.

• Jodoh (jika hasilnya 3, 12, 21, 30)
Pasangan dalam kategori ini dapat saling menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan

• Topo (jika hasilnya 4, 13, 22, 31) 
Pasangan topo cenderung akan merasa kesulitan dalam membina rumah tangga pada masa awal menikah. Namun, pasangan ini akan merasa bahagia pada ujungnya.

• Tinari (jika hasilnya 5, 14, 23, 32)
Menurut weton, kebahagiaan akan datang pada pasangan tinari dalam bentuk kecukupan rezeki. Pasangan ini pun sering mendapatkan keberuntungan selama berumah tangga. –

• Padu (jika hasilnya 6, 15, 24, 33)
Pasangan ini akan sering menghadapi pertengkaran selama berumah tangga. Namun, pertengkaran tersebut tidak berujung pada perceraian–karena masalah yang dihadapi terbilang cukup sepele.

• Sujanan (jika hasilnya 7, 16, 25, 34) 
Pasangan dengan kategori ini harus waspada karena harus menghadapi ancaman pertengkaran besar dalam rumah tangga.

• Pesthi (jika hasilnya 8, 17, 26, 35) 
Pasangan kategori ini konon akan memiliki rumah tangga yang rukun, meskipun akan tetap menghadapi masalah.

Pandangan Islam terhadap weton
Dikutip dari https://mirror.mui.or.id bahwa dasar utama dalam memilih pasangan hidup adalah agama dan akhlak, bukan hitungan weton atau ramalan nasib. Rasulullah SAW bersabda:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

"Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama, niscaya kamu beruntung." (HR. Bukhari & Muslim)

Pertama, karena hartanya. Tidak bisa dinafikan bahwa aspek finansial menjadi salah satu, meski bukan satu-satunya, hal yang menunjang keberhasilan kehidupan berumah tangga.
Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari mengatakan, boleh jadi hadis ini menunjukkan adanya pertimbangan kafa’ah (kesetaraan kondisi calon suami dan calon istri) dalam aspek finansial.

Kedua, karena keturunannya. Salah satu kriteria yang biasa diperhatikan dalam memilih pasangan hidup adalah melihat nasab/keturunannya. Misalnya, memilih pasangan dari anak ulama, bangsawan, pejabat ataupun pengusaha.
Karena seperti dalam sebuah pepatah, “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”, artinya sifat anak tidak jauh dari orangtuanya.
Namun tentu ini bukan kriteria utama, karena selain tidak banyak orang yang beruntung terlahir dari keluarga bangsawan atau cendikiawan, tidak sedikit pula orang yang bernasab baik, namun agama dan akhlaknya kurang baik. Begitupun sebaliknya.
Terkait kriteria ini, Ibnu Hajar mengatakan bahwa dianjurkan bagi lelaki terhormat yang memiliki nasab baik (keturunan bangsawan) menikahi seorang perempuan bangsawan pula.
Namun, jika perempuan bangsawan tersebut agamanya tidak baik, dan ada perempuan lain yang bukan bangsawan namun agamanya baik, maka pilihlah yang agamanya baik. Ketentuan ini (mendahulukan agama), berlaku pada semua kriteria lainnya. (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, juz 9, hal 135)

Ketiga, karena kecantikan/ketampanannya. Mengenai kriteria ketiga ini, Ibnu Hajar juga mengomentari dalam Fath al-Bari, bahwa hadits ini menjadi landasan anjuran menikahi pasangan yang memiliki paras rupawan, dengan catatan agamanya juga tak kalah indahnya.
Apabila ada dua orang perempuan. Yang satu, cantik sedang agamanya tidak baik, dan lainnya kurang cantik, namun agamanya baik, maka didahulukan yang baik agamanya.
Jika keduanya sama dalam hal agama, maka yang cantik diutamakan. Dan (hendaknya) keindahan paras itu diikuti dengan keindahan sifat (akhlak). (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al- Bari, juz 9, hal 135)
Lagi-lagi paras pun bukan patokan utama, karena cantik atau tampan itu relatif. Dan sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar, bahwa hendaknya kecantikan rupa diikuti oleh kecantikan akhlak/hati (inner beauty). Inilah yang terpenting.

Keempat, karena agamanya. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa sudah selayaknya bagi orang yang beragama dan memiliki muruah menjadikan agama sebagai orientasinya dalam melihat segala sesuatu, apalagi yang berkaitan dengan hubungan jangka panjang seperti pernikahan. (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, juz 9, hal 135)

Imam Nawawi juga, dalam Syarh Shahih Muslim-nya, berkata:
“Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk memiliki relasi dan persahabatan dengan orang yang baik agamanya dalam segala hal. Karena siapa saja yang bersahabat dengan mereka, maka ia akan mendapatkan manfaat dari akhlak, keberkahan, dan kebaikan jalan hidup, serta aman dari mafsadah ketika berada di sisi mereka”.

Ini diperkuat hadits riwayat Ibnu Majah, yang meskipun kualitasnya dhaif (lemah), namun dapat dijadikan i’tibar selama bukan perkara aqidah maupun hukum (halal/haram). Rasulullah SAW bersabda:

لَا تَزَوَّجُوا النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ فَعَسَى حُسْنُهُنَّ أَنْ يُرْدِيَهُنَّ وَلَا تَزَوَّجُوهُنَّ لِأَمْوَالِهِنَّ فَعَسَى أَمْوَالُهُنَّ أَنْ تُطْغِيَهُنَّ وَلَكِنْ تَزَوَّجُوهُنَّ عَلَى الدِّينِ وَلَأَمَةٌ خَرْمَاءُ سَوْدَاءُ ذَاتُ دِينٍ أَفْضَلُ

“Janganlah kalian menikahi perempuan karena kecantikannya, bisa jadi kecantikannya itu merusak mereka. Janganlah menikahi mereka karena harta-harta mereka, bisa jadi harta-harta mereka itu membuat mereka sesat. Akan tetapi nikahilah mereka berdasarkan agamanya. Seorang budak perempuan berkulit hitam yang telinganya sobek tetapi memiliki agama adalah lebih utama.” (HR Ibnu Majah no 1849, dhaif)

Itulah empat kriteria pasangan hidup ala Nabi Muhammad SAW, yang keseluruhannya bermuara pada satu kriteria utama, yaitu yang baik agama dan akhlaknya. Wallahu a’lam..

Dari hadis ini, jelas bahwa Islam lebih menekankan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan dalam memilih pasangan, bukan faktor weton atau ramalan yang bersifat spekulatif.

Bagi masyarakat Jawa, tradisi perhitungan weton sebelum pernikahan ini harus dilakukan selain sebagai bagian dari “nguri-nguri budoyo” (melestarikan dan menghidupkan budaya), juga dipercaya oleh sebagian besar masyarakat dapat dijadikan sebagai landasan bagi kelangsungan kehidupan rumah tangga pasangan yang akan menikah

Meskipun tidak diakui secara syar'i, dalam konteks sosial dan budaya masyarakat Jawa, penggunaan weton terkadang berfungsi sebagai alat komunikasi antar keluarga untuk mendiskusikan kesiapan dan merencanakan masa depan, atau sekadar untuk menghormati tradisi leluhur (Republika). Namun, ini lebih kepada aspek sosiologis daripada manfaat keagamaan. 

Tidak ada komentar:

×
Berita Terbaru Update