Sumber gambar ilustrasi https://www.mitrakeluarga.com
Tidur mendengkur sering kita sebut ngorok, terkadang masih ada yang berpendapat bahwa bila seseorang dari kita tidur ngorok/mendengkur disebabkan karena kondisi terlalu capek atau kelelahan sehingga tidurnya mendengkur, atau dikatakan tidur nyenyak karena lelah beraktifitas, hingga ada yang mengatakan, “Wah tidurnya enak sekali sampai ngorok “. Namun benarkah demikian?
Ngorok atau mendengkur adalah suara kasar/keras yang muncul saat tidur akibat terhambatnya saluran pernapasan atas, menyebabkan jaringan tenggorokan bergetar. Ini sering terjadi saat otot tenggorokan rileks, umum dialami, namun jika kronis bisa menjadi tanda sleep apnea (henti napas sementara) atau risiko penyakit jantung/stroke
Butuh waktu berapa untuk tidur yang normal?
Dikutip dari https://keslan.kemkes.go.id, tidur yang normal adalah kondisi dimana Kita mudah untuk memulai tidur, 15-30 menit sudah tertidur, 6 - 8 jam setiap harinya, terbangun 2-3 x malam hari dan mudah tertidur kembali, aliran nafas teratur, irama nafas halus, mulut tertutup, dan dapat berpindah posisi sesekali. Sedangkan tidur mendengkur atau ngorok dapat dialami oleh siapa saja, baik laki laki maupun perempuan, lansia, dewasa remaja bahkan anak anak juga dapat mengalaminya.
Penyebab tidur megorok
Struktur anatomi yang terlibat dalam mekanisme mendengkur meliputi bagian belakang mulut, tenggorokan, dan hidung:
- Langit-langit Lunak (Soft Palate) dan Uvula: Ini adalah penyebab utama suara dengkuran. Jaringan lunak ini kendur saat tidur, menonjol ke saluran napas, dan bergetar saat udara lewat.
- Pangkal Lidah: Lidah yang rileks dapat jatuh ke belakang dan mempersempit atau menutup saluran napas, terutama pada posisi tidur telentang.
- Tenggorokan (Faring): Dinding faring yang kendur meningkatkan peluang terjadinya getaran.
- Amandel dan Adenoid: Pada anak-anak, pembesaran amandel atau adenoid sering menjadi penyebab anatomis utama sumbatan.
- Hidung: Deviasi septum (tulang hidung bengkok) atau kelenjar konka yang membesar menyebabkan hidung tersumbat, memaksa napas melalui mulut dan memicu dengkuran
Apakah tidur mengorok daat dicegah?
Tidur ngorok bisa dicegah dan dikurangi dengan perubahan gaya hidup serta posisi tidur. Langkah efektif meliputi menjaga berat badan ideal, tidur menyamping, menghindari alkohol/rokok sebelum tidur, dan mengatasi alergi hidung. Tips ini membantu menjaga saluran napas tetap terbuka dan mengurangi getaran jaringan tenggorokan.
Berikut adalah cara-cara spesifik untuk mencegah dan mengurangi tidur ngorok:
- Ubah Posisi Tidur: Tidur menyamping (miring) adalah cara paling efektif untuk mencegah lidah jatuh ke belakang dan menutupi saluran napas, dibandingkan tidur terlentang.
- Jaga Berat Badan Ideal: Kelebihan berat badan (obesitas) menyebabkan penumpukan jaringan lemak di sekitar tenggorokan yang mempersempit jalan napas.
- Hindari Alkohol dan Obat Penenang: Jangan konsumsi alkohol atau obat penenang, terutama 4 jam sebelum tidur, karena zat ini merelaksasi otot tenggorokan secara berlebihan.
- Berhenti Merokok: Merokok menyebabkan iritasi dan peradangan pada saluran napas bagian atas, meningkatkan risiko mendengkur.
- Tidur yang Cukup: Kelelahan membuat otot tenggorokan terlalu rileks, meningkatkan kemungkinan ngorok.
- Atasi Alergi atau Hidung Tersumbat: Gunakan semprotan hidung atau cuci hidung dengan air garam untuk melegakan pernapasan jika hidung tersumbat karena alergi atau pilek.
- Gunakan Bantal Lebih Tinggi: Mengangkat kepala sedikit lebih tinggi saat tidur dapat membantu melegakan saluran pernapasan.
Dikutip dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:
Posting Komentar